Chapter 7 – Basket

Di Kampus, aku termasuk salah satu mahasiswa populer. Banyak mahasiswi yang dekat denganku mulai dari yang seangkatan sampai angkatan di atasku. Tapi sayangnya aku tak bisa mendapatkan hati pujaanku. Salah seorang mahasiswi jurusan Sekretaris dan Administrasi. Namanya Rahma.

Meskipun sibuk dengan kursus otomotif dan kegiatan organisasi mahasiswa, tapi aku masih bisa mendapatkan IPK tiga koma. Tapi aku merasa sangat bosan di kampus. Jadi terkadang aku mengikuti event-event yang diadakan oleh komunitas-komunitas yang ada di kotaku. Selain mencari teman-teman baru, aku juga ingin mencari pengalaman baru.

Saat akan diadakan ajang Basketball Cup di Kampusku, aku dan teman-temanku mendaftarkan diri. Kami bersaing dengan tim-tim lain dari seluruh jurusan. Pertandingan pertama berlangsung mulus. Pertandingan kedua pun begitu. Singkat cerita, akhirnya tim kami masuk ke semi-final.

Sebelum pertandingan semi-final aku mengajak Rahma untuk datang ke pertandingan itu. Ia pun datang di hari itu. Aku merasa sangat bersemangat. Sayangnya tim lawan terlalu tangguh. Kami pun kalah. Aku juga gagal untuk membuat Rahma terkesan. Parahnya, ia pun sudah pergi sebelum pertandingan berakhir.

Pelatih tim basketku, namanya Shinyo. Kami sudah kenal sejak lama. Dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Ia menghibur kekalahan tim kami, “Meskipun hari ini kita kalah, tapi bukan berarti semuanya sudah berakhir. Masih ada satu pertandingan lagi di hadapan kita. Sekarang kita harus fokus untuk mendapatkan juara 3!”

Setelah teman-teman timku sudah pulang, Shinyo memanggilku. Ia tahu kekecewaanku bukan hanya karena kalah, tapi juga karena sepertinya Rahma tidak punya perasaan yang sama kepadaku. Katanya ia ingin memperkenalkanku kepada teman perempuannya. Namanya Intan. Dia adalah adik dari pacar Shinyo.

Bersambung

Advertisements

Chapter 6 – Langit

Di SMP seangkatanku, kurang lebih ada tiga kubu. Kubu pertama adalah kubu anak-anak gaul yang berisi murid-murid yang selalu update mengikuti fashion dan trend-trend kekinian. Kubu kedua adalah kubu anak-anak rajin yang berisi murid-murid pintar dan fokus kepada pelajaran di sekolah. Aku termasuk kubu ketiga, yaitu kubu anak-anak nakal yang sering terlambat masuk kelas dan tidak mengerjakan tugas. Meskipun begitu aku tetap mau berteman dan memahami pola pikir kubu-kubu yang lain. Itulah mungkin penyebabnya aku bisa menjadi ranking 1 saat kelas 3 semerter 1 dan aku juga termasuk murid yang populer di angkatanku. Buktinya banyak perempuan yang menyatakan cintanya kepadaku selama di SMP.

Tika adalah perempuan pertama yang menyatakan cintanya kepadaku secara langsung, Tina adalah perempuan pertama yang menyatakan cintanya kepadaku melalui surat cinta, sedangkan Yanti adalah perempuan pertama yang menyatakan cintanya kepadaku melalui telepon. Aku menolak mereka semua. Alasannya karena Tika sudah kuanggap sebagai sahabatku dan Tina sudah kuanggap sebagai sepupuku. Sedangkan Yanti, alasanku menolak cintanya adalah karena saat itu aku sedang naksir dengan Nana.

Waktu aku sudah duduk di bangku SMA kelas 2 di hari saat Nana mencampakkanku, aku menghibur diri bersama teman-temanku bermain ke rumah Yanti. Entah mengapa di sana aku merasakan aura berbeda terpancar dari diri Yanti. Ia nampak begitu memesona. Hari itu pun langit kelihatan jauh lebih cerah dari hari-hari sebelumnya. Aku merasa sangat menyesal dulu pernah menolak cinta Yanti. Setelah adegan Nana meninggalkanku di pantai itu, aku mulai mendekati Yanti. Tapi sayangnya ternyata Yanti sudah ada yang punya. Jadi aku hanya bisa mendekatinya sebatas teman saja. Hingga pada akhirnya aku bisa move on dan jadian dengan Sari.

Setelah aku putus dengan Sari dan pindah sekolah ke luar kota, mungkin Yanti merasakan hal yang sama seperti hal yang aku rasakan ketika Tika pindah sekolah keluar kota. Kami pun jadi sering berkomunikasi melalui telepon maupun media sosial. Pada suatu hari aku menyatakan cintaku kepada Yanti. Saat itu pikirku meskipun Yanti menolak cintaku, setidaknya perasaanku yang terpendam kepadanya selama ini sudah aku ungkapkan. Tapi ternyata Yanti menerima cintaku.

Sahabat baikku, Tika sangat marah kepadaku. Dia mengatakan bahwa aku berubah setelah aku berpacaran dengan Yanti. Tika adalah sahabat Yanti sejak SMP. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Yang aku tahu setelah aku berpacaran dengan Yanti, Tika memutuskan hubungan persahabatannya dengan Yanti. Aku merasa sangat tidak enak.

Kurang lebih, kisah cintaku bersama Yanti mirip dengan kisah cintaku dengan Tika. Hubungan kami pun berakhir karena kesibukan kami masing-masing dan karena tidak adanya komunikasi. Hingga pada tahun 2016, aku berjumpa lagi dengan Yanti setelah berpisah selama 8 tahun. Kuhampiri ia di rumahnya. Kulihat ia mengenakan kaos merah sedang duduk di ruang tamu membaca sebuah Novel yang berjudul Sunset & Rosie. Ia menyambutku dengan senyuman sambil membukakan pintu pagar rumahnya. Yanti masih terlihat sangat memesona. Dari rumah Yanti pun langit masih nampak lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya.

Chapter 5 – Putih Abu-Abu Lagi

Dulu waktu aku duduk di bangku kelas 2 SMA, aku mulai merasa tertekan dengan pelajaran dan segala hal tentang sekolah. Sejak saat itu aku jadi sering bolos. Meskipun di sekolahku memiliki kebijakan untuk memberikan sanksi drop-out kepada muridnya yang bolos dengan total 3x atau 3 hari selama bersekolah di sana. Terima kasih kepada guru-guru killer yang tidak benar-benar memperhatikan muridnya. Absen kehadiranku di rapor selalu bersih dari bolos. Karena sekertaris kelasku adalah teman baikku. Jadi dia tetap menuliskan bahwa aku hadir di absen kelas, meskipun kenyataannya aku bolos.

Setiap pagi aku bolos ke Warnet atau ke Game Center. Di sana aku bermain Game MMORPG hingga siang. Kemudian aku pulang ke rumah. Tidak ada satu pun dari keluargaku bahwa aku sering bolos saat itu. Sore hari biasanya aku bermain ke rumah Iwan. Kadang-kadang juga aku bermain ke rumah teman bandku, Rama dan Icha. Saat band kami membutuhkan seorang keyboardist, aku memperkenalkan Rian kepada teman-teman bandku. Dulu Rian adalah keyboardist terbaik di SMP. Rian memang terlahir di keluarga musisi. Dari sinilah aku mulai akrab dengan Rian.

Setelah Nana meninggalkanku di pantai itu, kini aku menjadi seorang jomblo. Mengetahui itu Rian mencoba memperkenalkanku dengan salah satu teman perempuannya. Namanya Sari, ia adalah sahabat dari pacar Rian. Pacar Rian dan Sari adalah siswi sekolah lain. Kami sering bermain ke sekolah mereka saat jam pulang sekolah. Di sana aku semakin dekat dengan Sari. Kami berempat sering menghabiskan waktu nongkrong di lapangan depan sekolah mereka.

Singkat cerita, akhirnya aku jadian dengan Sari. Lalu kami sering double date berempat. Aku dengan Sari, sedangkan Rian dengan Isna. Hampir setiap hari kami berpacaran di depan sekolah mereka setelah pulang sekolah. Kadang-kadang kami berpacaran di Warnet sambil membuka Friendster. Friendster adalah media sosial pertama yang booming di Indonesia. Sekali-sekali kami double date ke Mall. Jarang sekali aku berkomunikasi dengan Sari melalui telepon. Karena biasanya memang setiap hari kami bertemu dan ngobrol sepuasnya dari siang hingga sore.

Sebelum matahari terbenam aku selalu mengantarkan Sari pulang ke rumahnya. Begitu juga Rian dan Isna. Karena malamnya Sari harus kerja paruh waktu sebagai kasir di sebuah kios telepon genggam, Rian harus menjeput Ibunya yang berjualan di kantin sebuah Rumah Sakit, sedangkan Isna memang tidak diijinkan oleh orangtuanya untuk keluar di malam hari.

Pada suatu hari di penghujung tahun 2008, Isna mengatakan sesuatu kepadaku. Ia membongkar rahasia sahabatnya, Sari. Sebenarnya niat Isna baik. Tapi sayangnya terjadi kesalah-pahaman antara kami. Isna mengatakan bahwa sebenarnya Sari memiliki banyak pacar selain aku. Aku tahu memang Sari adalah perempuan cantik yang juga berpostur menarik. Jadi wajar jika banyak cowok lain yang mendekatinya. Tapi aku sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Isna.

Aku kebakaran jenggot. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Sari. Ia menangis. Ia mencoba untuk menjelaskan semuanya kepadaku. Tetapi aku tidak mau mendengar semua penjelasan Sari. Hingga pada keesokan harinya saat aku sudah mulai tenang, Isna datang kepadaku. Isna mewakili Sari untuk menjelaskan semuanya.

Isna mengatakan bahwa Sari hanya ingin aku tahu bahwa memang dia memiliki banyak pacar lain selain aku, tetapi ia sudah memutuskan semua pacarnya karena dia ingin serius berpacaran denganku seorang. Di saat itu juga aku menyesali sikapku kepada Sari. Seharusnya aku mendengarkan penjelasan yang lengkap agar aku tak salah memahami sesuatu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tinggal beberapa hari lagi aku harus pindah sekolah ke luar kota. Jika aku kembali berpacaran dengan Sari sepertinya kami tidak akan sanggup menjalani Long Distance Relationship. Satu hal yang selalu kuingat dari Sari, dia adalah satu-satunya mantan pacarku yang sangat suka dengan warna hijau.

Chapter 4 – Rahasia

Nana tak pernah tahu sedikit pun tentang hubungan gelapku dengan Nia. Icha, sahabat baikku tak pernah memberitahukan rahasiaku kepada Nana. Setelah Nana selesai dengan kesibukannya, kami pun kembali menikmati hari-hari terakhirku sampai akhirnya kami harus berpisah. Berat rasanya meninggalkan kota Ujung Pandang. Banyak sekali kenanganku di kota ini. Apalagi harus meninggalkan seorang kekasih.

Tiket pesawat terbang sudah ada di tangan. Nia yang mengantarkanku membeli tiket itu. Tetapi Nana yang mengantarkanku ke Bandara. Begitulah perselingkuhan. Membagi waktu untuk dua orang yang berbeda.

Sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat, aku menyantap nasi goreng buatan Nana yang dibawa dari rumahnya. Ia menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Nana suka sekali mengelus-elus rambutku. Ketika waktunya tiba, aku pun harus meninggalkan Nana dan kota ini. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki masuk ke dalam Bandara. Nana memelukku dengan erat. Tersirat bahwa ia tidak rela melihat aku pergi meninggalkannya.

Sesampainya di rumah, aku dan Nana kembali melanjutkan hubungan Long Distance Relationship kami seperti sebelumnya. Hingga pada suatu malam, Nana mengatakan sesuatu kepadaku. “Budhi, sebenarnya aku punya satu rahasia yang sulit sekali untuk aku katakan kepadamu,” ujarnya lewat telepon. Aku meyakinkannya bahwa aku akan menerima apapun yang ia sembunyikan dariku. Tetapi Nana bersikeras untuk tetap merahasiakannya.

Aku menjadi curiga. Dengan kesal aku memaksa Nana mengatakannya, tapi ia tetap tidak mau. Akhirnya aku terpaksa memberitahukan rahasiaku kepadanya. “Biar adil. Aku juga akan mengatakan rahasiaku kepadamu,” ucapku. Nana memaksaku untuk mengatakan rahasiaku terlebih dulu sebelum ia memberitahukan rahasianya kepadaku. Akhirnya aku pun memberitahunya tentang hubunganku dengan Nia. Sudah bisa ditebak, pastinya Nana menjadi sangat sedih dan kecewa. Tetapi sesuai kesepakatan, setelah itu Nana tetap menceritakan rahasianya kepadaku. Akhirnya malam itu kami pun sepakat untuk mengakhiri hubungan ini. Sejak saat itu kami tak pernah saling berkomunikasi lagi.

Setelah 4 tahun berlalu, aku dipertemukan kembali dengan Nana. Kami menghabiskan waktu sore itu menikmati pemandangan langit senja di Masjid Terapung Pantai Losari. Ia menawarkan bekalnya kepadaku. Aku menerimanya. Ia menyuapiku. Rasanya seperti tidak pernah ada masalah apa-apa di antara kami. Aku menahan perasaanku agar tidak jatuh cinta lagi kepadanya. Meskipun banyak dari teman-temanku, khususnya Icha yang menyuruhku untuk kembali bersama Nana. Setelah matahari tenggelam, malamnya kami makan malam berdua di sebuah Restoran. Lalu pergi ke rumah Iwan untuk menyantap es krim rujak buatanku bersama-sama dengan Yanti, Wati, Rian, Yuni, Iwan dan yang lainnya. Itulah kenangan terakhirku dengan Nana.

Chapter 4.5 – Danau

Selingkuh itu indah. Kira-kira seperti itulah anggapan beberapa orang. Pastinya mereka yang beranggapan demikian adalah para pelaku selingkuh, bukan orang-orang yang menjadi korban perselingkuhan.

Jauh sebelum menginjakkan kaki di kota Ujung Pandang, aku sudah lama menjalin hubungan dengan Nia. Awalnya ia menjadikanku sebagai tempatnya mencurahkan isi hatinya. Khususnya saat Nia dan pacarnya sedang ada masalah. Lama-kelamaan kami jadi sering berkomunikasi. Mungkin Nia merasa nyaman denganku. Akhirnya kami pun terjebak dalam hubungan tanpa status. Karena pada saat itu posisiku sedang berpacaran dengan Nana. Tetapi Nia tidak tahu bahwa aku sudah memiliki pacar.

Iwan menghampiriku di sore hari. Kami jadi pergi ke rumah Nia. Di sana aku dan Nia bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah berpisah selama bertahun-tahun. Orangtua Nia sedang tidak ada di rumah. Kami menghabiskan malam itu berlima bersama adik dan sepupu Nia. Sebelum jam menunjukkan pukul 11, aku dan Iwan pamit pulang. Tanpa aku sadari, telepon genggamku tertinggal di rumah Nia.

Nia membuka telepon genggamku. Ia membuka dan membaca hampir semua pesan singkat yang ada di kotak masuk. Dari situ Nia mulai tahu hubunganku dengan Nana. Esoknya Nia mendatangiku untuk mengembalikan telepon genggamku. Di sana aku menjelaskan semuanya kepada Nia. Untung ia mau mengerti dan menerima keadaanku. Nia sama sekali tak menunjukkan sikap marah kepadaku. Malahan esoknya aku berjalan-jalan bersama Nia, menghabiskan waktu seharian berdua mengelilingi kota. Di tempat lain, Nana masih sibuk dengan urusannya.

Keesokan harinya Nia mengajakku ke danau. Di sana sedang diadakan lomba mancing se-kota Ujung Pandang, Ibunya Nia menjadi salah satu panitia penyelenggara acara tersebut. Karena aku tak memiliki kendaraan, akhirnya aku menyuruh Icha untuk menjemputku. Kami berdua pun berangkat ke sana.

Setelah acara berakhir, Nia mengajakku menemaninya pergi ke tempat pasien. Nia adalah mahasiswi jurusan medis. Habis itu, Icha mengajak kami pergi ke danau lain yang terletak di dekat kampus. Di sana kami menikmati senja bertiga hingga matahari benar-benar tenggelam.

Chapter 4 – Pesawat Terbang

Sudah bertahun-tahun aku berpisah dengan Nana. Kini aku melanjutkan kuliah di Surabaya. Sedangkan Nana melanjutkan kuliah di Ujung Pandang. Sejak perpisahan kami di pantai itu, kami tak pernah saling berkomunikasi lagi. Hingga pada tahun 2012, akhirnya Facebook mempertemukan kami berdua.

Singkat cerita untuk kedua kalinya, cinta lama bersemi kembali. Akhirnya kami berpacaran lagi. Meski hubungan jarak jauh atau istilah bahasa gaulnya, Long Distance Relationship (LDR).

Sebulan sebelum bulan Ramadhan, Nana sangat ingin bertemu denganku. “Budhi, aku bukan cuma butuh suaramu. Tapi aku juga butuh tubuhmu. Maksudnya aku butuh kehadiranmu di sini.” ucap Nana melalui telepon. Kata-kata kerinduan Nana menggodaku untuk pergi ke sana. Setelah ada budget yang cukup dan waktu yang memadai, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat.

Ini adalah pertama kalinya aku menyebrangi lautan untuk bertemu seorang kekasih. Di Bandara Sultan Hassanuddin Ujung Pandang, Nana menyambut kehadiranku. Ia terlihat begitu cantik mengenakan dress coklat dan topi koboi. Kami duduk sejenak menikmati senja dan kopi di salah satu Cafe di dalam Bandara sambil ngobrol melepas kangen. Setelah adzan terdengar kami pun singgah di Masjid terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Kemudian Nana mengantarkanku ke rumah Iwan. Meskipun cuaca malam itu hujan deras, angin kencang, serta dingin yang menusuk. Tetapi api asmara menghangatkan kami berdua.

Beberapa saat setelah aku dan Nana sampai ke rumah Iwan, Rian datang menghampiri kami. Rian menawarkanku untuk menginap di rumahnya. Aku dengan senang hati menerima tawaran Rian. Rian adalah sahabat baikku sejak SMA. Sebenarnya Rian adalah teman sekelasku waktu SMP. Tetapi kami baru akrab setelah SMA.

Aku dan Nana menghabiskan waktu sebulan lebih bersama di sana. Kami berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Sulawesi Selatan. Mulai dari Pantai Losari, Masjid Terapung di Pantai Losari, Masjid Raya Ujung Pandang, Pantai Tanjung Bayang, Jembatan Kembar di perbatasan Ujung Pandang dan Gowa, Lapangan Syekh Yusuf Gowa, dan Pulau Samalona. Kami pun berwisata kuliner khas kota Ujung Pandang. Di antaranya Pisang Epe dan Mie Titi di Pantai Losari, Konro Bakar di dekat Lapangan Karebosi, Wedang Saraba di belakang SMAN 1 Ujung Pandang dan Es Pisang Ijo di daerah Kota Lama.

Hampir setiap hari Nana menjemputku di rumah Rian untuk pergi berjalan-jalan. Jika Nana sedang sibuk, biasanya Rian yang mengajakku berjalan-jalan. Hingga pada suatu hari Nana dan Rian masing-masing sedang sibuk, aku pun menghubungi sahabatku yang bernama Icha. Aku mengajaknya bertemu. Dulu aku dan Icha pernah bergabung dalam sebuah band musik. Aku menjadi bassist band tersebut, sedangkan Icha adalah vokalisnya.

Icha datang menjemputku di rumah Rian. Kemudian kami berdua pergi ke rumah Iwan. Lalu malam itu kami bertiga nongkrong di Cafe dekat rumah Iwan. Kami menghabiskan waktu hingga larut malam. Tiba-tiba Iwan mengajakku untuk pergi ke rumah Nia besok. Nia adalah teman sekelas Iwan waktu SMA. Nia juga adalah teman sekelasku waktu SD dan aku pernah naksir dengan Nia. Selain itu yang Nana dan Iwan tidak tahu, Nia adalah selingkuhanku.

Bersambung

Chapter 4 – Titanium

Dulu aku pernah membeli sebuah cincin titanium untuk aku berikan kepada pujaan hatiku sebagai hadiah ulang tahun sekaligus pernyataan cintaku kepadanya. Sayangnya cincin itu hilang bersama harapanku untuk memilikinya. Di hari ulang tahun Nana, ternyata dia jadian dengan cowok lain.

Setelah sekitar setahun, aku dan Nana dipertemukan kembali. Aku masih menyimpan nomer telepon rumah Nana. Awalnya saat pulang sekolah aku iseng meneleponnya di wartel. Dari situ kami mulai sering telepon. Kadang aku meneleponnya lewat telepon umum dan kadang juga lewat wartel. Hingga akhirnya Nana diberikan telepon genggam oleh orangtuanya. Mungkin orangtuanya kesal karena setiap kali ada telepon yang masuk ke telepon rumahnya adalah telepon untuk Nana.

Perasaan yang dulu pernah ada, kini bersemi kembali. Tapi posisiku saat itu sedang berpacaran dengan Fani. Jadi aku mencoba untuk menjaga jarak dengan Nana. Sayangnya aku tak mampu menahan godaan Nana. Ditambah lagi, Fani kini sering bercerita tentang mantan pacarnya yang bernama Putra. Akhirnya aku dan Fani putus dengan cara baik-baik. Aku menjelaskan kedekatanku dengan Nana kepadanya. Kami pun sepakat untuk kembali ke cinta lama kami masing-masing.

Sebulan setelah aku putus dengan Fani, aku menyatakan cintaku kepada Nana. Tepat tanggal 5 di bulan itu, kami jadian. Beberapa minggu sebelumnya, Fani juga telah kembali berpacaran dengan Putra.

Banyak hal yang sudah aku lupakan tentang ceritaku bersama Nana. Kisah cintaku bersamanya adalah kisah terumit yang pernah kualami. Singkatnya setelah masa-masa indah kami berpacaran, kami mengalami masa-masa jarang berkomunikasi karena terlalu gengsi untuk memulai percakapan. Akhirnya hubunganku dan dia menjadi renggang.

Nana memang perempuan yang cantik, pintar, dan juga baik. Saking baiknya dia selalu merespon cowok lain yang mencoba untuk mendekatinya. Sebagai pacar, sudah sewajarnya jika aku cemburu. Dan sebagai pacar, seharusnya Nana lebih menghargai perasaanku. Setidaknya itu yang dulu ada dalam benakku. Sejak saat itu aku mulai mencoba mengabaikan Nana.

Pada suatu hari saat libur sekolah, aku berencana berkumpul dengan teman-teman alumni SMP. Kami janji berkumpul di depan SMP kami. Di sana aku bertemu dengan Iwan, Susi, Rahman, Rian dan Ina. Entah kenapa saat itu aku melihat Ina tampak begitu cantik. Kami berenam sepakat untuk bermain ke rumah Yanti. Setibanya di rumah Yanti, lagi-lagi entah kenapa saat itu aku melihat Yanti tampak begitu cantik. Entahlah, mungkin karena aku merasa kesepian karena diabaikan oleh pacarku sendiri.

Keesokan harinya masih tidak ada kabar dari Nana. Sampai beberapa hari pun masih tidak ada kabar. Aku memutuskan untuk menghubungi Nana duluan. Kami pun bercakap-cakap. Nana mengatakan bahwa ia merindukanku dan ia sangat senang karena aku menghubunginya. Tapi dalam hati aku merasa bahwa Nana berbohong. Kalau memang Nana merindukanku, seharusnya dia menghubungiku dari kemarin-kemarin. Akhirnya aku meminta Nana untuk bertemu denganku besok di pantai.

Siang itu, di pantai aku bertemu dengan Nana. Aku katakan padanya bahwa aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Kugenggam tangannya, lalu seolah-olah kupakaikan cincin di jari manisnya. Kuceritakan kepada Nana tetang kisah cincin titanium yang hilang bersama hilangnya harapanku untuk memilikinya dulu. Lalu kukatakan kepadanya bahwa cincin yang kukenakan kepadanya ini adalah cincin yang tak terlihat. Cincin ini seperti cinta yang tak bisa terlihat oleh kasat mata, tetapi bisa dirasakan. Cincin ini pun tak dapat dilepaskan. “Biarlah cincin ini menjadi kenang-kenangan terakhirku bersamamu.” ucapku. Air mata Nana menetes. Ia tak ingin aku melihatnya. Ia pun pergi meninggalkanku sendirian di pantai itu.

Bersambung