Chapter 9 – Waralaba

Bertubi-tubi dihabisi monster kejam yang disebut Cinta. Belum lagi masalah besar yang terjadi di dalam keluargaku. Ditambah pula teman-teman dan sahabat-sahabatku yang semakin sibuk dengan dunianya masing-masing. Saya memutuskan untuk mengurung diri. Sehari penuh aku habiskan untuk bermain game online bergenre side-scrolling MMORPG. Setiap hari selama bertahun-tahun. Kalaupun saya keluar rumah, itu hanya untuk isi pulsa, makan, mandi atau membeli rokok ke sebuah Waralaba yang sudah menjamur sejak pertengahan tahun 2011. Tak jauh, jaraknya hanya 2 gang dari rumahku.

Karyawan dan karyawati di Waralaba tersebut sampai hapal denganku. Tak perlu aku sebutkan mau beli apa, mereka sudah tahu. Surya 12, rokok andalanku. Saking seringnya ke sana, akhirnya seorang karyawati menawariku untuk menjadi member pelanggan Waralaba tersebut. “L. Nitalia” tertulis pada kartu tanda pengenal di dadanya. Saya setuju untuk membuat kartu member pelanggan. Toh, biayanya cuma Rp25.000.

Pada suatu hari saat saya hendak keluar dari kamar menuju ke kamar mandi. Aku terkejut melihat Nita dari balik jendela. Ia membeli jus buah yang dijual di halaman rumahku. Rumahku memang dijadikan toko buku dan di halamannya ada sebuah stand yang menjual jus buah. Mungkin Nita mengetahui alamat rumahku dari data kartu memberku yang ia daftarkan beberapa hari yang lalu. Aku memang biasa menggoda pegawai di Waralaba. Tapi maksudku hanya sekedar bergurau. Rupanya Nita menganggapnya lain. Ia menyukaiku.

Letusan kembang api berlomba-lomba memeriahkan langit malam. Nita dan teman-temannya merayakan tahun baru di halaman depan Waralaba. Ia nampak cantik sekali mengenakan baju biasa. Selama ini aku memang tidak pernah melihat Nita memakai baju lain selain seragam kerjanya. “Bajunya kok itu-itu terus sih, Mbak. Nggak pernah mandi ya?” gurauan standarku sehari-hari. Malam itu Nita mengajakku selfie bareng bersama dengan teman-temannya. Aku menolak. Seharian aku belum mandi.

Tahun baru. Harapan baru. Semangat baru. Mungkin juga aku harus punya pacar baru. Oke, mungkin ini saat yang tepat untuk kembali membuka hati. Aku berencana untuk mendekati Nita. Tapi seperti kata Pepatah, “Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan.” Setelah malam itu, aku tak pernah lagi menjumpai Nita.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s