Chapter 7 – Blackberry

Intan adalah seorang Sales Promotion Girl di sebuah Mall. Kami berkenalan di sebuah pertandingan basket yang sedang diselenggarakan di kampusku. Saat itu tim basketku berhasil meraih gelar juara 3. Setelah pertandingan selesai, kami bertukaran pin BB sebelum berpisah.

Blackberry atau yang biasa disingkat BB sedang booming saat itu. Sebenarnya aku tak suka mengikuti trend-trend kekinian. Apalagi saat itu aku sudah memiliki 2 buah telepon genggam, yaitu Sony Ericsson w560 dan w660i. Tetapi karena salah seorang sahabatku di kampus, Ardan sedang butuh uang. Ia menjual telepon genggam Blackberrynya kepadaku dengan harga sangat murah. Aku pun membelinya.

Setiap hari aku dan Intan bertukar pesan lewat Blackberry Messenger. Aku jadi kecanduan Blackberry. Intan dan aku hanya bertemu seminggu sekali. Biasanya di malam minggu. Makan malam di McD, bersepeda keliling kota, atau sekedar bertamu dan ngobrol santai di rumahnya. Tapi Intan tak pernah menjadi pacarku. Aku pun tak pernah menyatakan cintaku kepadanya. Hubungan kami baginya hanya sebatas kakak-adik.

Di kampus, aku mulai dekat dengan seorang mahasiswi jurusan Perpajakan. Namanya Lila. Wajahnya mirip dengan Intan. Setiap hari kami bertemu di kampus. Salah satu mahasiswi dari jurusanku, Nita adalah sahabat Lila. Itulah sebabnya Lila sering nongkrong di tongkrongan anak-anak dari jurusanku. Nita yang memperkenalkanku kepada Lila. Nita adalah sahabatku juga. Dia yang selalu kuandalkan jika aku tidak bisa datang ke kampus dan terpaksa harus titip absen.

Aku dan Lila pernah berjalan-jalan menyeberangi Jembatan Suramadu. Di sana Lila memancingku untuk memintanya menjadi pacarku. Tapi sepertinya aku kurang peka. Selain makan bareng di kantin kampus dan nongkrong di taman kampus, aku dan Lila sering berjalan-jalan mengelilingi kota. Mulai dari Taman Pelangi, Taman Bungkul, Masjid Agung Surabaya, Mall CITO, dan lain-lain. Pernah sekali kami makan bubur kacang ijo berdua di dekat rumah Lila.

Pada saat Lila ulang tahun, aku memberikannya sebuah bunga. Tapi aku tak pernah menyatakan cinta kepadanya. Padahal aku tahu Lila memiliki perasaan kepadaku. Sampai akhirnya pada saat aku hendak pergi ke luar kota, Lila menyuruhku datang menemuinya. Ia mengatakan bahwa jika aku tak menemuinya saat itu, ia akan menjauh dariku. Dengan bodohnya aku mengabaikan kata-kata Lila. Perasaanku saat itu masih tertinggal di Nana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s