Chapter 4 – Rahasia

Nana tak pernah tahu sedikit pun tentang hubungan gelapku dengan Nia. Icha, sahabat baikku tak pernah memberitahukan rahasiaku kepada Nana. Setelah Nana selesai dengan kesibukannya, kami pun kembali menikmati hari-hari terakhirku sampai akhirnya kami harus berpisah. Berat rasanya meninggalkan kota Ujung Pandang. Banyak sekali kenanganku di kota ini. Apalagi harus meninggalkan seorang kekasih.

Tiket pesawat terbang sudah ada di tangan. Nia yang mengantarkanku membeli tiket itu. Tetapi Nana yang mengantarkanku ke Bandara. Begitulah perselingkuhan. Membagi waktu untuk dua orang yang berbeda.

Sembari menunggu jadwal keberangkatan pesawat, aku menyantap nasi goreng buatan Nana yang dibawa dari rumahnya. Ia menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Nana suka sekali mengelus-elus rambutku. Ketika waktunya tiba, aku pun harus meninggalkan Nana dan kota ini. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki masuk ke dalam Bandara. Nana memelukku dengan erat. Tersirat bahwa ia tidak rela melihat aku pergi meninggalkannya.

Sesampainya di rumah, aku dan Nana kembali melanjutkan hubungan Long Distance Relationship kami seperti sebelumnya. Hingga pada suatu malam, Nana mengatakan sesuatu kepadaku. “Budhi, sebenarnya aku punya satu rahasia yang sulit sekali untuk aku katakan kepadamu,” ujarnya lewat telepon. Aku meyakinkannya bahwa aku akan menerima apapun yang ia sembunyikan dariku. Tetapi Nana bersikeras untuk tetap merahasiakannya.

Aku menjadi curiga. Dengan kesal aku memaksa Nana mengatakannya, tapi ia tetap tidak mau. Akhirnya aku terpaksa memberitahukan rahasiaku kepadanya. “Biar adil. Aku juga akan mengatakan rahasiaku kepadamu,” ucapku. Nana memaksaku untuk mengatakan rahasiaku terlebih dulu sebelum ia memberitahukan rahasianya kepadaku. Akhirnya aku pun memberitahunya tentang hubunganku dengan Nia. Sudah bisa ditebak, pastinya Nana menjadi sangat sedih dan kecewa. Tetapi sesuai kesepakatan, setelah itu Nana tetap menceritakan rahasianya kepadaku. Akhirnya malam itu kami pun sepakat untuk mengakhiri hubungan ini. Sejak saat itu kami tak pernah saling berkomunikasi lagi.

Setelah 4 tahun berlalu, aku dipertemukan kembali dengan Nana. Kami menghabiskan waktu sore itu menikmati pemandangan langit senja di Masjid Terapung Pantai Losari. Ia menawarkan bekalnya kepadaku. Aku menerimanya. Ia menyuapiku. Rasanya seperti tidak pernah ada masalah apa-apa di antara kami. Aku menahan perasaanku agar tidak jatuh cinta lagi kepadanya. Meskipun banyak dari teman-temanku, khususnya Icha yang menyuruhku untuk kembali bersama Nana. Setelah matahari tenggelam, malamnya kami makan malam berdua di sebuah Restoran. Lalu pergi ke rumah Iwan untuk menyantap es krim rujak buatanku bersama-sama dengan Yanti, Wati, Rian, Yuni, Iwan dan yang lainnya. Itulah kenangan terakhirku dengan Nana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s