Chapter 4 – Pesawat Terbang

Sudah bertahun-tahun aku berpisah dengan Nana. Kini aku melanjutkan kuliah di Surabaya. Sedangkan Nana melanjutkan kuliah di Ujung Pandang. Sejak perpisahan kami di pantai itu, kami tak pernah saling berkomunikasi lagi. Hingga pada tahun 2012, akhirnya Facebook mempertemukan kami berdua.

Singkat cerita untuk kedua kalinya, cinta lama bersemi kembali. Akhirnya kami berpacaran lagi. Meski hubungan jarak jauh atau istilah bahasa gaulnya, Long Distance Relationship (LDR).

Sebulan sebelum bulan Ramadhan, Nana sangat ingin bertemu denganku. “Budhi, aku bukan cuma butuh suaramu. Tapi aku juga butuh tubuhmu. Maksudnya aku butuh kehadiranmu di sini.” ucap Nana melalui telepon. Kata-kata kerinduan Nana menggodaku untuk pergi ke sana. Setelah ada budget yang cukup dan waktu yang memadai, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat.

Ini adalah pertama kalinya aku menyebrangi lautan untuk bertemu seorang kekasih. Di Bandara Sultan Hassanuddin Ujung Pandang, Nana menyambut kehadiranku. Ia terlihat begitu cantik mengenakan dress coklat dan topi koboi. Kami duduk sejenak menikmati senja dan kopi di salah satu Cafe di dalam Bandara sambil ngobrol melepas kangen. Setelah adzan terdengar kami pun singgah di Masjid terdekat untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Kemudian Nana mengantarkanku ke rumah Iwan. Meskipun cuaca malam itu hujan deras, angin kencang, serta dingin yang menusuk. Tetapi api asmara menghangatkan kami berdua.

Beberapa saat setelah aku dan Nana sampai ke rumah Iwan, Rian datang menghampiri kami. Rian menawarkanku untuk menginap di rumahnya. Aku dengan senang hati menerima tawaran Rian. Rian adalah sahabat baikku sejak SMA. Sebenarnya Rian adalah teman sekelasku waktu SMP. Tetapi kami baru akrab setelah SMA.

Aku dan Nana menghabiskan waktu sebulan lebih bersama di sana. Kami berjalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Sulawesi Selatan. Mulai dari Pantai Losari, Masjid Terapung di Pantai Losari, Masjid Raya Ujung Pandang, Pantai Tanjung Bayang, Jembatan Kembar di perbatasan Ujung Pandang dan Gowa, Lapangan Syekh Yusuf Gowa, dan Pulau Samalona. Kami pun berwisata kuliner khas kota Ujung Pandang. Di antaranya Pisang Epe dan Mie Titi di Pantai Losari, Konro Bakar di dekat Lapangan Karebosi, Wedang Saraba di belakang SMAN 1 Ujung Pandang dan Es Pisang Ijo di daerah Kota Lama.

Hampir setiap hari Nana menjemputku di rumah Rian untuk pergi berjalan-jalan. Jika Nana sedang sibuk, biasanya Rian yang mengajakku berjalan-jalan. Hingga pada suatu hari Nana dan Rian masing-masing sedang sibuk, aku pun menghubungi sahabatku yang bernama Icha. Aku mengajaknya bertemu. Dulu aku dan Icha pernah bergabung dalam sebuah band musik. Aku menjadi bassist band tersebut, sedangkan Icha adalah vokalisnya.

Icha datang menjemputku di rumah Rian. Kemudian kami berdua pergi ke rumah Iwan. Lalu malam itu kami bertiga nongkrong di Cafe dekat rumah Iwan. Kami menghabiskan waktu hingga larut malam. Tiba-tiba Iwan mengajakku untuk pergi ke rumah Nia besok. Nia adalah teman sekelas Iwan waktu SMA. Nia juga adalah teman sekelasku waktu SD dan aku pernah naksir dengan Nia. Selain itu yang Nana dan Iwan tidak tahu, Nia adalah selingkuhanku.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s