Chapter 3 – Putih Abu-Abu

Temanku, Yudi sedang berusaha menyatakan cintanya kepada Lani di lantai 2 sekolah. Sedangkan aku duduk berdua dengan Icha di bawah tangga. Hari itu adalah hari Valentine. Mungkin saat itu adalah saat yang tepat untukku jika aku ingin menembak Icha. Dia adalah salah satu penari di ekstrakulikuler marching band sekolahku. Senyumnya manis, penampilannya menarik, dan dia juga baik. Tapi sayangnya sehari sebelum hari itu, aku sudah jadian dengan siswi kelas lain.

Pacarku bernama Fani. Sebelum kami berpacaran, kami pernah digosipkan di majalah dinding sekolah. Mira, temanku yang menjadi pengurus majalah dinding pernah meminjam telepon genggamku. Namanya anak mading ya sudah pasti kepo. Dia buka riwayat panggilanku. Aku refleks berusaha merebut telepon genggamku dari genggamannya. Tapi si Mira kabur. Dia berhasil melihat di riwayat panggilanku. Di situ terlihat banyak telepon ke Fani. Akhirnya jadilah gosip mading terbaru. Di mading edisi bulan Februari ditulis oleh Mira bahwa aku menelepon Fani selama 5 jam lebih dalam sehari. “Cieee, cieee … kira-kira mereka berdua ngomongin apa aja ya?” tertulis di mading bagian gosip di pojok kanan bawah.

Jujur, bagiku Fani tidak begitu cantik. Tapi dia baik, ceria, dan pintar. Sifat cerianyalah yang membuatku jatuh cinta kepada Fani. Walaupun di sekolah saat jam istirahat dan jam pulang sekolah sudah bertemu dan ngobrol dengan Fani. Tapi rasanya sehari belum lengkap kalau belum telepon dia. Selalu saja ada hal yang jadi bahan pembicaraan kami.

Sebulan setelah kami jadian, Fani berulang tahun. Aku dan teman-teman Fani merencanakan kejutan untuknya. Di sekolah saat jam pelajaran dan jam istirahat, kami sengaja mengabaikan Fani. Bahkan sahabat Fani, Aya sampai pura-pura ngambek dengan Fani. Padahal adegan ngambek Aya tidak termasuk dalam rencana. Akhirnya Fani menangis dan terpaksa aku tenangkan dia.

Saat pulang sekolah, teman-teman Fani memberi kejutan. Mereka melempari Fani dengan tepung terigu, air, dan telur. Aku menutup mata Fani dari belakang. Aya membawakan kue ulang tahun. Kemudian kubuka mata Fani. Kami pun bernyanyi lagu Selamat Ulang Tahun. Setelah Fani meniup lilinnya, aku memakaikan mahkota ke kepala Fani. Seru sekali rasanya.

Sorenya, aku datang ke rumah Fani membawakan kado untuknya. Sebuah boneka ikan lumba-lumba berwarna pink. Aku sengaja memberikan yang berwarna pink karena aku tahu Fani tidak suka warna pink. Fani kesal sekali saat membuka kado dariku. Tapi dia tetap menerimanya. Esoknya, Fani membuatkanku kue Brownies. Mungkin sebagai tanda terima kasih.

Hampir setiap hari aku berangkat dan pulang sekolah mengendarai sepeda motor berdua bersama Fani. Jarak dari rumahku ke rumah Fani sekitar 1 km, sedangkan jarak dari rumah Fani ke sekolah kami adalah 6,5 km. Rumah Fani letaknya tidak jauh dari pantai. Kalau berjalan kaki sedikit dari belakang rumah Fani, kita bisa melihat pantai. Kadang saat pulang sekolah kami bermain di pantai itu. Kadang sebelum aku mengantar Fani pulang ke rumahnya, kami singgah ke tempat penyewaan komik. Aku dan Fani sama-sama suka membaca komik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s