Chapter 2 – Telepon Genggam

Nokia 3650 adalah telepon genggam pertama saya. Hadiah ulang tahun saat saya masih duduk di kelas 5 SD. Waktu itu, di sekolah hanya saya satu-satunya murid yang memiliki telepon genggam.

Beberapa dari teman-teman saya mulai diberikan telepon genggam oleh orangtuanya di saat duduk di bangku SMP. Di antaranya adalah Esa dan Tika. Saya mulai mengenal mereka saat kelas 2 SMP. Esa adalah teman ekstrakulikuler, sedangkan Tika adalah pacar Esa.

Di kelas 2 SMP, saya pernah ikut sebuah geng tanpa nama yang terdiri dari saya, Iwan, Esa, Tika dan Taufik. Selain karena kami satu ekstrakulikuler, kami menjadi akrab juga karena kami semua gemar membaca komik yang sama. Biasanya saya, Esa atau Tika yang membeli komik ketika seri terbarunya sudah keluar di toko buku. Lalu yang lain boleh meminjam komik tersebut di sekolah saat istirahat atau saat pulang sekolah.

Menjelang kenaikan kelas, ada suatu hal yang mengejutkan kami. Esa putus dengan Tika. Penyebabnya adalah karena Esa dekat dengan cewek lain, yaitu Tiwi. Sebagai sahabat yang baik, saya mencoba untuk menenangkan Tika yang sedang dilanda kesedihan. Sejak saat itu saya dan Tika jadi sering berkomunikasi lewat telepon genggam.

Tanpa saya sadari. Perhatian yang saya berikan kepada Tika sebagai seorang sahabat, diartikan berbeda olehnya. Tika mengira bahwa aku naksir padanya. Selang beberapa minggu, tanpa kuduga Tika menyatakan cintanya padaku. Aku terkejut. Tika adalah perempuan pertama yang menembakku.

Waktu itu aku sudah lama putus dengan Rianty dan statusku saat itu masih jomblo. Tapi aku menganggap Tika sebagai sahabat. Jadi saat itu juga aku menolak cintanya. Tika pun menangis. Lalu ia berlari menjauh dariku. Perasaanku saat itu sungguh tidak enak sekali. Aku telah membuat sahabat baikku menangis. Dengan refleks, langsung kukejar Tika.

Saat kelas 3 semester 2, Tika pindah sekolah ke luar kota. Sejak saat itu kami saling telepon dan bertukar SMS. Itulah satu-satunya cara kami untuk berkomunikasi. Seperti kata pepatah, kita tidak pernah sadar betapa berharganya orang yang kita miliki sampai kita kehilangan orang tersebut.

Aku baru menyadari bahwa hanya Tika satu-satunya yang mengerti aku. Dia yang selalu ada saat aku merasa sedih atau kesepian. Singkat cerita, akhirnya kami berpacaran. Seperti halnya anak remaja usia SMP yang masih alay, kami memiliki panggilan sayang. Aku memanggilnya dengan sebutan Mama dan dia memanggilku dengan sebutan Papa.

Setiap hari sepulang sekolah, aku selalu menelepon Tika. Terkadang Tika meneleponku. Tapi aku yang lebih sering menelepon Tika. Kalau pulsa di telepon genggam sudah habis, aku telepon Tika dengan menggunakan telepon rumah. Akibatnya tagihan telepon membengkak. Akhirnya aku pun dimarahi oleh orangtuaku. Setelah itu kami jadi jarang telepon. Menjelang ujian akhir dan ujian nasional, aku semakin sibuk. Tika pun begitu. Kami jadi tidak pernah berkomunikasi lagi.

Setelah lulus SMP, di SMA aku mulai melupakan Tika. Berkenalan dengan banyak wajah-wajah baru dan tenggelam dalam kesibukan memang adalah cara yang paling ampuh untuk melupakan seseorang. Tika pun mungkin mulai melupakanku di sana. Ternyata benar. Di sana Tika sudah punya pacar baru. Padahal belum sempat ada kata putus antara aku dan Tika. Tapi My first Long Distance Relationship tidak berakhir dengan putus tanpa kata putus.

Bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s