Chapter 1 – Bunga Anggrek

Bunga Anggrek adalah simbol cinta, cantik, keindahan, dan perhatian. Seperti itulah Rianty, cinta pertamaku.

Rumah Rianty terletak tepat di seberang Gereja. Rianty berdarah Tionghoa. Meskipun kami seumuran, tapi Rianty lebih tinggi dariku. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Ibunya gemar memelihara tanaman. Di pekarangan rumahnya ada banyak sekali tanaman bunga, khususnya bunga Anggrek.

Dari kejauhan kulihat Rianty sedang duduk memandangi langit lewat jendela rumahnya. Nampaknya ia sedang melamun. Aku lupa bagaimana detailnya. Tapi yang jelas di hari Rabu, Rianty menerima cintaku. Kami berpacaran. Hatiku berbunga-bunga. Entah bunga apa. Mungkin bunga Anggrek.

Keesokan harinya kami semakin dekat. Tak hanya pulang sekolah berdua setiap hari. Aku jadi sering bermain ke rumahnya. Mengenal keluarga Rianty dan latar belakangnya lebih dalam. Aku sering meminjam buku catatan pelajaran Rianty di sekolah. Kadang aku selipkan surat cinta di bukunya. Lalu sorenya aku datang ke rumah Rianty untuk mengembalikan bukunya.

Pagi, siang, malam selalu memikirkan Rianty. Di kelas saat jam pelajaran, kami sering bertukar pandang lalu tersenyum. Juga sesekali kami jalan-jalan berdua atau ramai-ramai bersama teman-teman. Yang paling berkesan adalah saat kami pergi ke sebuah bazar di Cafe Laguna. Minum jus alpukat favorit Rianty.

Sayangnya semua masa-masa indah ini tidak berlangsung lama. Masalahnya bermula ketika suatu hari aku bermain ke rumah Rianty hingga larut malam. Awalnya niatku keluar rumah bukan untuk bermain ke rumah Rianty. Setiap malam, biasanya aku pergi ke pasar untuk menemani temanku berjualan dari jam 7 hingga jam 9. Tapi malam itu saat di perjalanan menuju ke pasar, aku bertemu dengan sahabat Rianty.

Susi bilang bahwa Rianty sendirian di rumahnya. Keluarganya sedang pergi. Aku disuruh menemani Rianty. Maka aku langsung pergi ke rumahnya. Ternyata di sana Rianty sudah ditemani oleh tetangganya, Lita. Beberapa saat setelah aku masuk ke rumah Rianty, Lita pergi meninggalkan kami berdua.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam dinding di rumah Rianty ternyata rusak. Aku tak sadar bahwa saat itu sudah jam 10 malam. Keluarga Rianty sudah pulang. Aku pun pamit pulang. Bisa ditebak yang akan terjadi selanjutnya. Akibat dari kejadian itu aku dimarahi oleh orangtuaku karena pulang larut malam. Rianty pun dimarahi oleh orangtuanya. Keesokan harinya keadaan semakin kacau. Entah bagaimana caranya, kejadian ini sampai ke telinga guru agama. Rianty pun dipanggil ke ruang guru. Setelah hari itu hubungan kami semakin longgar.

Tepat di hari Jum’at saat pulang sekolah, Heny memanggilku. Katanya Rianty mau bicara denganku di luar kelas. Iwan menguping dari balik pintu kelas. Di halaman depan kelas, Rianty bertanya padaku, “Budh, kita putus aja ya?” Sontak aku terkejut dalam hati. Tapi mau bagaimana lagi kalau keadaannya memang begini. Pasti berat rasanya di posisi Rianty sampai dipanggil ke ruang guru dan dimarahi oleh guru agama. Akhirnya dengan berat hati aku menjawab, “Iya, gapapa.” Aku tersenyum kepadanya. Menyembunyikan perasaan sedihku.

Esoknya kutuliskan surat cinta terakhirku untuk Rianty dan sejak saat itu perasaan kami hari demi hari perlahan-lahan semakin menjauh. Sedikit dari teman-teman yang tau bahwa kami sudah putus. Mungkin cuma Iwan, Heny, Susi dan Lita yang tau. Bahkan sampai bulan Mei di binder Rianty, ia menuliskan di biodatanya bahwa akulah pacarnya. Padahal kami sudah putus sejak bulan Agustus.

Kenangan terakhirku bersama Rianty adalah saat menunggu pembagian rapor kelas 3 semester 1. Di luar hujan cukup deras. Angin dingin berhembus lumayan kencang. Aku  duduk di samping Rianty. Di bawah bangku, tangan kami bergengaman erat. Wali kelasku tak melihat. Lebih berkesannya lagi adalah karena saat itu untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku mendapatkan ranking 1. Aku tidak percaya. Teman-temanku pun tak ada yang percaya.

Aku memang tergolong murid yang pintar, tapi aku bukan murid yang rajin. Aku sering terlambat masuk kelas, jarang mengerjakan PR, dan jarang mencatat pelajaran di kelas. Epiknya adalah meskipun di raporku tertulis bahwa aku ranking 1, tapi di halaman selanjutnya ada catatan. Di catatan itu dituliskan dengan jelas oleh wali kelasku bahwa aku sering terlambat masuk jam pelajaran pertama.

Di semester kedua, rasa yang dulu pernah ada mulai pudar. Bukan berarti kami jadi seperti musuh atau seperti orang yang tak saling kenal. Aku dan Rianty masih sering pulang bersama, tapi bukan berdua seperti dulu. Rasanya kami jadi seperti teman biasa. Rasanya Anggrek yang dulu pernah berbunga-bunga di hatiku, kini telah layu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s